TETAP “NANDUR PARI” MESKI HUJAN TAK KUNJUNG DATANG.

gedungjaya.desa.id – Minimnya curah hujan yang terjadi sejak Hari Raya Idul Fitri atau tepatnya sejak bulan Juni 2019, membuat lahan perswahan warga Kampung Gedung Jaya Kecamatan Rawa Pitu menjadi kering. Hal ini menyebabkan tanaman padi yang notabenya tinggal tumbuh di lumpur akan mejadi layu dan mati karena lumpur kering.

Waktu taman yang tidak sesui dengan “mongso” (jawa: hitungan musim) alias mundur dari target menambah resiko kekeringan lahan. Hal ini disebabkan lantaran masa panen rengken tahun 2019 kemarin tidak cepat selesai dikarenakan pada saat panen rending, hujan tidak kunjung behenti. Malah banyak padi yang roboh dan gagal dipanen.

Tanam padi yang ditargetkan selesai dibulan juni 2019, malah kini sampai bulan agustus 2019 ada yang belum selesai tanam. Hal ini disebankan karena banyaknya semaian yang rusak sehingga harus menebar benih kembali, selain itu minimnya curah hujan dan hanya mengandalkan air cor dari skunder membuat pengolahan lahan yang tidak cepat selesai, membuat pembengkakan modal.

Kondisi ini tidak menyurutkan niat petani padi di Kampung Gedung Jaya dalam ikut serta mengisi lumbung pangan Negara Indonesia. cieeeh…

Meskipun hujan tidak kunjung datang, tapi tetap “nandur pari” dengan mengandalkan alat sedot air dari sungani untuk dimauskan ke sawah milik petani. dan umumnya setiap petani sudah memiliki alat ini hasil membeli dari pengrajin dan toko mesin diesel.

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan